Rabu, 21 Maret 2012

Ledakan Supernova di Galaksi Whirlpool

Sebuah supernova baru tampak di langit malam dan mengejutkan para pengamat. Kejutan yang menyenangkan bagi para astronom dan astronom amatir. Untuk kedua kalinya, sebuah bintang meledak di Galaksi Whirlpool (Messier 51 / M51) dalam 6 tahun terakhir. Dan berita baiknya para pengamat bisa menikmatinya dari halaman rumah anda dengan teleskop menengah maupun yang besar
Petunjuk Supernova
Galaksi Whirlpool atau M51. Kredit : Jim Misti
Petunjuk pertama akan erupsi yang tampak di galaksi Whirlpool dimulai pada tanggal 31 Mei saat astronom amatir dari Prancis Amédée Riou mengenali hilangnya bintang dengan magnitudo 14 dalam citra CCD yang diambilnya dari galaksi tersebut. Riou kemudian melakukan pengambilan citra yang sama keesokan hari.
Di tempat yang berbeda, pada tanggal 1 Juni, Thomas Griga juga berhasil mengidentifikasi kejadian yang sama dari Schwerte, Jerman.  Malam berikutnya, kehilangan itu diketahui jawabannya oleh Tom Reiland dari Glenshaw, Pennsylvania dan pengamat dari Prancis Stéphane Lamotte Bailey yang berhasil mengenali keberadaan sinar terang pada citra dijital yang ia ambil dengan teleskop 8 inchi. Sejak saat itu, si obyek terang ini sudah diamati juga oleh Palomar Transient Factory dan para pemburu supernova di Galaxy Zoo.
Apa yang dilihat dan diabadikan oleh Stéphane Lamotte Bailey dalam citra dijitalnya ternyata supernova baru yang kemudian dinamai SN 2011 dh dan berada di galaksi Whirlpool. Bintang yang meledak tersebut memang tidak tampak dalam citra galaksi Whirlpool yang diambil beberapa malam sebelumnya dan membuat para pengamat kehilangan bintang asalnya di galaksi tersebut.
Galaksi Whirlpool
Supernova yang berada di Galaksi Whirlpool memang menarik perhatian para astronom amatir karena galaksi yang juga dikenal sebagai M51 itu masuk dalam daftar obyek “yang harus dilihat”. hal ini tak lain karena Whirlpool merupakan salah satu galaksi spiral yang berada dekat Bima Sakti pada jarak 23 juta tahun cahaya. Sekitar 10 kali lebih jauh dari Galaksi Andromeda. M51 ini jadi favorit karena ia cukup terang untuk dilihat dengan binokular dan teleskop dengan diameter 6 inchi.
Galaksi Whirlpool atau Messier 51 atau M51 berada obyek urutan ke-51 dalam katalog deep sky object yang dibuat Charles Messier pada abad ke-18. Galaksi ini berada tak jauh dari Rasi Ursa Mayor atau Beruang Besar pada saat dilihat oleh Stéphane Lamotte Bailey di pagi hari saat ia menemukan SN 2011 dh. Galaksi Whirlpool juga merupakan galaksi yang terlukis indah di langit serta yang pertama dikenali struktur spiralnya. Lord Rose (a.k.a William Parsons) yang membuat sketsa indah M51 pada tahun 1845 dengan menggunakan teleskop reflektor 72 inchi.
Supernova Tipe II ?
Animasi pengamatan Stéphane Lamotte Bailey yang menemukan supernova SN 2011 dh. Kredit : Stéphane Lamotte Bailey
Masih terlalu awal untuk menyatakan bahwa supernova yang tampak tersebut sedang dalam proses semakin terang atau akan meredup. Yang pasti ia tidak tampak dalam citra yang diambil Riou tanggal 10 Mei. Juga tidak tapak obyek yang lebih terang dari magnitud 19,5 pada citra yang diambil oleh teleskop 10 inchi dari University of Ljubljana di Slovenia tanggal 30 Mei. Weidong Li dari University of California, Barkeley, mengidentifikasi bintang pendahulu atau bintang yang jadi cikal bakal SN 2011 dh dalam citra Hubble Heritage yang diambil bulan April 2005. Akan tetapi Weidong belum menentukan berapa kecerlangan si bintang.
Meskipun demikian, para astronom tampakya cukup yakin untuk menyatakan bahwa supernova yang dilihat adalah Supernova Tipe II yang merupakan ledakan dari bintang tunggal dengan massa setidaknya 8 massa Matahari saat bintang tersebut kehabisan bahan bakar nuklir di intinya.  Tanpa adanya dorongan keluar dri panas yang ada di inti untuk mengatasi tekanan gravitasi, bintang pun runtuh dan menciptakan gelombang kejut yang kemudian meledak dalam ledakan dasyat. Energi yang besar pun dilepaskan menyebabkan si bintang mengalami peningkatan kecerlangan jutaan kali dalam sekejap.
Spektrum tanggal 2 Juni yang diambil teleskop Keck I saat mengikuti gerak M51 yang menjauh dari kita pada kecepatan 600 km/detik, bagian dari ledakan itu tampaknya bergerak pada mengarah ke Bumi pada kecepatan yang tinggi.  Gelombang kejut tersebut mengandung materi yang bergerak pada berbagai kecepatan yang berbeda. Dan hidrogen yang dilihat pengamat bergerak menuju pengamat pada kecepatan 17600 km/detik.
Hal menarik lainnya, supernova yang juga tampak 6 tahun lalu terjadi di salah satu lengan Whirlpool dan juga merupakan Supernova Tipe II. Supernova ketiga yang juga sangat cerlang terjadi tahun 1994 dan menjadikannya 3 supernova baru dalam 17 tahun.
Bintang leluhur dari SN 2011 dh memang terlalu redup untuk bisa dilihat melalui teleskop, namun kembang api di angkasa ini sayang untuk dilewatkan. Para pengamatat yang menggunakan teleskop 8 inchi atau lebih dapat menikmati kembang api tersebut pada kecerlangan 14 magnitud dan ia masih akan tampak dalam beberapa minggu ke depan.
Sumber : astrobob, S&T, forum astr surf

Membedah Supernova Galaksi Whirlpool

Sejak 31 Mei 2011 telah teramati supernova di lengan galaksi Whirlpool atau galaksi M51 dalam katalog Charles Messier. Supernova ini, yang pada awalnya dikodekan sebagai PSN J13303600 + 4706330, kini dinamakan supernova SN 2011dh sesuai dengan tatanama yang berlaku. Dalam konteks galaksi Whirlpool, supernova ini merupakan supernova ketiga dalam tujuh belas tahun terakhir.
Perbandingan citra galaksi Whirlpool sebelum dan sesudah 31 Mei 2011 berdasarkan observasi Bailey. Tanda panah menunjukkan posisi supernova SN 2011dh, yang tidak muncul di citra sebelah kiri. Kredit : Bailey, 2011
Supernova SN 2011dh terletak pada deklinasi +47° 10’ 11” dan ascensio recta 13j 30m 5,1d (J2000,00) atau secara relatif berada pada 2,3’ sebelah timur dan 1,5’ sebelah selatan dari pusat galaksi Whirlpool. Observasi Palomar Transient Factory dan Galaxy Zoo Supernova Project menunjukkan supernova SN 2011dh memiliki magnitud visual +13,5 dan spektrumnya konsisten dengan ciri–ciri supernova tipe II.
Weidong Li dan rekan–rekannya dari University of California Berkeley menunjukkan kandidat bintang leluhur supernova SN 2011dh kemungkinan telah terekam dalam database citra teleskop landas bumi Hubble yang diambil pada bulan April 2005 lewat instrumen Advanced Camera for Survey (ACS). Dengan ketidakpastian posisi 0,09” kandidat bintang leluhur tersebut terletak pada deklinasi +47° 10’ 11,55” ascensiorekta 13j 30m 5,119d (J2000,00). Obyek ini memiliki magnitud visual +21,8. Sehingga wajar jika tidak terlihat dalam citra galaksi Whirlpool yang diambil pada 30 Mei 2011 lewat teleskop reflektor 10 inci dari Universitas Ljubljana (Slovenia) yang memiliki magnitud batas +19,5. Namun Li juga menggarisbawahi bahwa bintang leluhur supernova SN 2011dh bisa juga adalah anggota gugusan bintang padat ataupun bintang lain yang tersembunyi di balik terangnya obyek yang terekam Hubble. Untuk memastikannya maka analisis lebih lanjut terus dilakukan.
Kandidat bintang leluhur supernova SN 2011dh (dalam lingkaran) berdasarkan citra instrumen ACS teleskop landas bumi Hubble pada spektrum visual. Kredit foto : STScI, 2005 dalam Li dkk, 2011
Dengan magnitud visual +13,5 dan jarak galaksi Whirlpool ke Bumi diestimasikan sebesar 31 juta tahun cahaya, maka supernova SN 2011dh memiliki magnitud absolut –16,4. Ini konsisten dengan ciri–ciri supernova, yang bisa memiliki magnitud absolut hingga –18. Dengan demikian supernova SN 2011dh ini melepaskan energi 300 juta kali lipat lebih besar dibanding energi Matahari. Sementara kandidat bintang pendahulunya memiliki magnitud visual +21,8 sehingga mempunyai magnitud absolut –8,1 dan luminositasnya setara dengan 147.000 Matahari. Dengan demikian hingga saat ini terdapat peningkatan kecerlangan atau peningkatan keluaran energi hingga 2.000 kali lipat antara sebelum dan sesudah supernova terjadi.
Spektrum kandidat bintang leluhur yang direkam Hubble konsisten dengan ciri–ciri spektrum bintang superraksasa kuning yang massif. Sehingga dapat diestimasikan kandidat bintang leluhur itu memiliki massa 18–24 massa Matahari. Secara teoritis sebuah bintang raksasa, yang telah mengalami reaksi fusi tingkat lanjut sehingga tidak hanya membakar Hidrogen saja, memang berpotensi menjadi supernova saat kehabisan bahan bakarnya yang diiringi pengerutan dimensi bintang oleh tarikan gravitasinya sendiri. Dengan asumsi suhu permukaannya 5.000–6.000 Kelvin (sesuai ciri–ciri bintang kuning), maka jari–jari kandidat bintang leluhur supernova SN 2011dh setara dengan 360–520 jari–jari Matahari atau setara dengan 1,7–2,4 AU. Bisa kita bayangkan jika Matahari menjadi bintang seperti ini, maka ukurannya akan meluas hingga ke tepi dalam Sabuk Asteroid Utama dan menelan empat planet sekaligus mulai dari Merkurius hingga Mars.
Sangat menarik untuk memprediksikan bagaimana nasib bintang tersebut pasca supernova. Pada dasarnya sebuah bintang mengalami supernova tipe II setelah suhu intinya mencapai 8 milyar Kelvin (untuk bintang bermassa 15 massa Matahari), sehingga foton sinar gamma produk reaksi fusi termonuklir memiliki energi mencukupi untuk memulai reaksi fotodisosiasi sehingga setiap Besi akan terurai menjadi 13 Helium dan neutron. Inti Helium pun akan terdisosiasi kembali menjadi proton dan neutron. Reaksi–reaksi fotodisosiasi merupakan reaksi eksoergik yang membutuhkan energi (panas) dari luar sehingga suhu inti turun drastis dan tekanan radiatifnya pun sangat menurun. Akibatnya pengerutan gravitasi pun terjadilah, yang membuat inti bintang mengerut secara dramatis sekaligus membuat proton dan elektron didalamnya bereaksi membentuk neutron. Sehingga terbentuklah bintang neutron. Namun terbuka pula kemungkinan fotodisosiasi terus berlangsung, sehingga baik proton, elektron maupun neutron bakal terurai menjadi partikel–partikel quark. Sehingga terbentuklah obyek eksotik lainnya: lubang hitam.
Apapun yang terjadi kelak, yang jelas dengan jauhnya jarak supernova SN 2011dh, dinamika yang dialaminya takkan berdampak bagi Bumi. Supernova SN 2011dh terjadi akibat reaksi fusi termonuklir sangat intens pada selang waktu sangat pendek sehingga memproduksi sinar gamma yang luar biasa banyaknya, yang dikenal sebagai gamma–ray bursts (GRB). Interaksi sinar gamma dari supernova dengan atmosfer Bumi mampu mengubah nitrogen menjadi oksida–oksida nitrogen yang berbahaya, sebab dapat melucuti lapisan Ozon. Namun pelucutan lapisan Ozon hingga separonya baru akan terjadi bila supernova tipe II berlangsung pada sebuah bintang yang terletak maksimum 26 tahun cahaya dari Bumi. Sementara SN 2011dh sejuta kali lipat lebih jauh. Dan supernova sebenarnya merupakan peristiwa biasa bagi bintang–bintang di jagat raya. Secara rata–rata antara 2007 hingga 2009 telah terdeteksi 400 supernova, namun angka sebenarnya tentu jauh lebih besar.

Matahari Yang Terlambat Bergolak

Setiap hari kita bertemu bintang yang satu ini. Ia memberi kita terang dan energi yang menopang kehidupan manusia di Bumi setiap harinya. Itulah Matahari.
Matahari. Kredit : NASA
Tapi akhir-akhir ini kisah tentang Matahari seringkali membuat masyarakat penuh kekuatiran. Cerita itu tak lain tentang meningkatnya aktivitas Matahari yang melepaskan ledakan-ledakan dan melontarkan massa koronanya ke ruang angkasa.  Lontaran itulah yang sering dianggap membahayakan bagi Bumi. Kenyataannya? Hal tersebut tidaklah benar.  Lontaran yang tiba di Bumi justru menyuguhkan fenomena aurora yang indah bagi masyarakat yang menetap di lintang tinggi.
Kisah aktifnya Matahari ini sempat mengkhawatirkan para ahli Fisika Matahari karena aksi diamnya yang cukup lama. Bagaimana tidak, Matahari yang seharusnya mengalami aktivitas maksimum setiap 11 tahun ternyata justru berada pada kondisi minimum yang cukup lama. Tak hanya itu. Di tahun 2008, siklus Matahari justru berada pada kondisi ter-minimum selama hampir 1 abad. Pada masa itu, para peneliti tidak menemukan adanya bintik Matahari, flare Matahari juga ikut surut dan Matahari sangatlah tenang. Kondisi tenang di akhir siklus ke-23 tersebut juga merupakan anomali dari berakhirnya siklus Matahari ke-23 yang seharusnya sudah berakhir pada kisaran 2005-2006.
Kalau membayangkan kerja para ahli fisika Matahari, coba bayangkan diri kita berada di samping kompor sambil menanti dengan tidak sabar agar air di panci segera mendidih. Inilah yang terjadi pada para ahli Matahari, mereka juga jadi tidak sabar menantikan kapan Matahari kembali aktif karena ia tetap tenang apalagi setelah masa siklus ke-24 dimulai, Matahari masih tetap melanjutkan aksi diamnya selama 18 bulan.  Aksi diam ini terjadi karena siklus ke-23 yang sebelumnya pun terlambat berakhir akibatnya siklus yang baru terlambat dimulai.  Diketahui juga siklus Matahari yang ke-23 yang dimulai tahun 1996 merupakan siklus ketiga terpanjang dalam sejarah pengamatan siklus Matahari. Salah satu dampak yang diyakini adalah musim dingin ekstrim di belahan Bumi utara pada tahun 2009 dan 2010.
Matahari Kembali Beraksi
Solar Flare kelas X1.5 yang dipotret Solar Dynamic Observatory pada tanggal 9 Maret 2011. kredit : SDO/NASA
Siklus Aktivitas Matahari terjadi dalam siklus 11 tahun, namun ketika aktivitas minimum Matahari berlanjut lebih lama dari yang diperkirakan  ada sebagian ilmuwan yang berpendapat kalau kondisi minimum ini tidak akan berakhir.
Kalau kata Richard Fisher, kepala divisi Heliophysics NASA, di Washington DC, “Sejak dulu kami sudah menunggu aktivitas Matahari datang menjemput.”
Kini akhirnya periuk itu sudah mulai mendidih.  Dan Fisher serta para peneliti lainnya bisa megakhir penantiannya karena kini mereka akan menikmati berbagai aksi dari bintang bernama Matahari.
Matahari kembali pada kehidupannya yang penuh letupan dan dinamika.  Memasuki tahun 2011, bintik Matahari kembali tampak dan mereka memecah kebekuan dengan berbagai aktivitas.  Tanggal 15 Februari dan kemudian di tanggal 9 Maret, satelit yang mengorbit Bumi mendeteksi sepasang flare Matahari kelas X. Flare jenis ini memancarkan sinar X yang paling kuat yang dipoduksi Matahari. Terakhir kali para peneliti bisa menikmati ledakan seperti itu terjadi bulan Desember 2006 saat siklus Matahari ke-23 mendekati akhir.
Ledakan lainnya terjadi lagi tanggal 7 Maret dan menghempaskan milyaran ton awan plasma dari Matahari dengan kecepatan 2200 km/det. Awan yang bergerak sangat cepat tersebut tidak langsung mengarah ke Bumi namun ia tetap saja mengirimkan tirai cahaya yang indah ke medan magnetik Bumi.  Dan jika masih ada yang bertanya-tanya akankah peningkatan Matahari berbahaya pada umat manusia di Bumi, maka jawabannya pun masih sama. Tidak.
Dampak dari tabrakan lontaran awan dan medan magnetik Bumi pada tanggal 10 Maret cukup cepat untuk mengirimkan cahaya utara tumpah ruah melintas perbatasan Canada dan tampak di Amerika Serikat, khususnya di wilahay Wisconsin, Minnesota dan Michigan. Lontaran massa korona tersebut merupakan yang tercepat dalam 6 tahun terakhir. Kejadian yang hampir serupa terjadi November 1997 saat siklus Matahari ke-23 dimulai. Artinya, kejadian serupa kembali menandai dimulainya siklus Matahari yang baru atau siklus Matahari ke-24.  Siklus 24 yang dimulai dengan lambat bukanlah sekedar periuk yang sedang ditunggu terlambat untuk mendidih tapi dari sejarah pengamatan siklus Matahari, siklus ke-24 ini memang sangat lambat untuk dimulai.
Aurora yang dipotret Shawn Malone dari Marquette MI USA 12 April 2011. kredit : Shawn Malone, spaceweather
Semenjak pertama kali diamati dan direkam jejak terjadinya siklus Matahari di pertengahan abad ke-18. Dari keseluruhan silus yang sudah diamati tersebut,  hanya ada 4 siklus yang dimulai lebih lambat dari siklus ke-24. Tiga di antaranya berada pada Dalton Minimum atau periode dimana aktivitas matahari sangat minim pada awal abad ke-19. Dan siklus ke-4 yang lebih lambat itu adalah siklus Matahari ke-1, di kisaran tahun 1755.  Penentuan tingkat keterlambatan dimulainya sebuah siklus dilakukan dengan menggunakan bintik matahari sebagai parameter kunci dari aktivitas Matahari.  Dan meskipun ada peningkatan bintik Matahari akhir-akhir ini, tetap saja tidak mengubah kesimpulan yang ada kalau “Siklus Matahari ke-24 terlambat dimulai”.
Tapi, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali bukan?

Gliese 667C c, Exoplanet Laik Huni di Sistem Tiga Bintang

Sebuah planet baru kembali ditemukan! Dan yang menarik tentu saja lokasi keberadaannya yang berada di zona laik huni bintang induknya. Artinya planet tersebut bisa mempertahankan air dalam wujud cair di permukaannya. Dan ini adalah indikasi pertama dari sebuah planet laik huni.
Planet baru tersebut merupakan planet Bumi Super dengan indikasi merupakan planet laik huni yang mengitari bintang dekat. Planet Gliese 667C c a.k.a GJ667C c, planet yang saat ini berpotensi sebagai planet laik huni dan kandidat terbaik dari exoplanet serupa Bumi. Meski tentu saja untuk bisa memberi kesimpulan akhir masih dibutuhkan pengamatan lanjutan untuk mengkonfimasi kemampuan mempertahankan kehidupan di exoplanet tersebut.
Ilustrasi sistem keplanetan Gliese 667C yang memiliki planet di zona laik huni. Kredit : Guillem Anglada-Escudé
Planet Gliese 667C c
Planet Bumi Super yang menjadi kandidat planet laik huni Gliese 667C c merupakan planet yang menginduk pada salah satu bintang di sistem bintang bertiga. Ia mengitari bintang induknya dalam waktu 28 hari dan memiliki massa minimum 4,5 kali massa Bumi. Dan pastinya, si planet ini berada dalam zona laik huni bintang. Lokasi yang tidak terlalu panas dan tidak terllau dingin untuk keberadaan air dalam wujud cair di permukaan planet.
Diagram sistem keplanetan Gliese 667C. Kredit : UC Santa Cruz
Hasil penelitian tim internasional ini juga menunjukkan adanya kemungkinan keberadaan 2 atau 3 planet lagi yang ikut mengitari bintang dengan jarak 22 tahun cahaya dari Bumi di rasi Scorpius.  Gliese 667C c mengitari bintang katai merah Gliese 667C bersama planet Gliese 667C b, dan jarak Gliese 667C c dari bintang induknya sangat dekat yakni 0,12 SA. Jauh lebih dekat dari Merkurius ke Matahari. Tapi bintang induknya jauh lebih redup dari Matahari dan bisa memberikan energi yang cukup bagi planet untuk menjaga temperatur kebumiannya.
Temperatur di Gliese 667C c memang masih belu dapat dipastikan, tapi jika diasumsikan ia memiliki atmosfer kebumian yang sama, maka temperaturnya bisa jadi berkisar ~30º C dan seraga di seluruh planet. Tapi jika si planet memiliki atmosfer yang lebih masif, temperaturnya akan lebih tinggi dan tidak akan cocok bagi kehidupan.
Komposisi Gliese 667C c memang masih belum diketahui karena ukurannya juga belum diketahui, salah satu komponen penting yang digunakan untuk menghitung kerapatan.  Bisa saja planet Gliese 667C c merupakan planet batuan, lautan atau bahkan planet gas.  Hanya planet batuan atau planet lautan yang bisa dikategorikan sebagai planet laik huni. Untuk memenuhi kriteria itu, ukuran radiusnya haruslah di antara 1,7 – 2,2 radius Bumi.
Untuk mengetahui ukuran planet Gliese 667C c bisa dilakukan melalui metode transit seperti yang dilakukan Kepler. Tapi untuk kasus Gliese 667C c, kemungkinan ia adalah exoplanet transit sangatlah kecil.
Sistem Bintang Bertiga
Bintang induk dari planet Gliese 667C c, bintang Gliese 667C merupakan bintang katai kelas M yang mengorbit bintang Gliese 667A dan Gliese 667B pada jarak lebih dari 230 SA (sekitar 6 kali jarak Matahari – Pluto). Artinya, bintang Gliese 667C merupakan bagian dari sistem bintang bertiga. Meskipun demikian, lingkungan termal Gliese 667C c hanya dipengaruhi oleh sang bintang induk dan tidak dipengaruhi oleh dua bintang lainnya.
Dua bintang lainnya Gliese 667A dan Gliese 667B merupakan pasangan katai coklat oranye dengan konsentrasi kelimpahan elemen berat hanya 25% dari yang dimiliki Matahari. Elemen tersebut merupakan penyusun penting dalam membentuk sebuah planet kebumian. Karena itu diperkirakan kalau bintang dengan kelimpahan logam yang rendah tidak akan dapat memiliki kelimpahan planet bermassa rendah. Hal yang sama juga pada Gliese 667C. Bintang ini hanya memiliki sedikit kelimpahan elemen yang lebih berat dari helium seperti besi, karbon dan silikon.  Penemuan ini memberi indikasi kalau planet yang potensial untuk laik huni bisa muncul di lingkungan yang jauh berbeda dari yang diketahui sebelumnya.
Pengamatan Gliese 667C c
Tim pengamat yang terdiri dari astronom seperti Steven Vogt dan Eugenio Rivera (UC Santa Cruz) dan dipimpin oleh Guillem Anglada-Escudé dan Paul Butler (Carnegie Institution for Science), menggunakan data publik dari ESO dan kemudian menganalisa data tersebut. Selai itu mereka melakukan pengukuran ulang dengan menggunakan High Resolution Echelle Spectrograph dari W. M. Keck Observatory dan spektograf baru Carnegie Planet Finder Spectrograph pada teleskop Magellan II. Teknik yang mereka gunakan adalah mencari goyangan kecil pada gerak bintang yang disebabkan oleh gangguan gravitasi si planet.
Dalam sistem yang sama, telah ditemukan juga sebelumnya planet Bumi Super Giese 667C b dengan periode 7,2 hari meski tidak pernah dipublikasikan. Orbit planet tersebut sangat dekat dengan bintang sehingga akan terlalu panas untuk keberadaan air dalam wujud cair. Pengamatan baru akan dilakukan untuk menentukan parameter orbit dari planet Gliese 667C b tersebut.
Selain Gliese 667C c, para astronom juga menemukan planet gas raksasa dan tambahan planet Bumi Super lainnya yang mengorbit dengan periode 75 hari. Tapi untuk mengkonfirmasi keberadaannya masih dibutuhkan pengamatan lanjutan di masa depan.
Sampai saat ini dunia exoplanet sudah memiliki 750 planet yang sudah dikonfirmasi dan masih ada 2000 kandidat planet yang dilihat wahana Kepler yang maish harus dicari tahu apakah mereka benar-benar planet ataukah bukan. Dan manusia pun semakin mendekati impian dan harapannya untuk menemukan planet kembar Bumi lainnya di jagad semesta ini.
Sumber : UC Santa Cruz, W.M. Keck Observatory, Planetary Habitability Laboratory

TrES-2b Planet Gelap bak Batubara

Seperti apakah dunia asing di luar Bumi? Itu mungkin pertanyaan yang sering muncul di benak manusia. Dan karena rasa ingin tahu pula-lah para astronom melakukan pencarian.
Ternyata dunia asing di luar Bumi ada yang berasal dari gas, ada yang dingin dan ada juga yang “mirip” dengan Bumi. Semua planet itu pun punya ciri khas yang berbeda-beda. Tapi dalam penelitian terbaru, para astronom justru menemukan sebuah dunia yang berbeda. Bahkan ia merupakan exoplanet paling gelap yang pernah ditemui.  Exoplanet tersebut memiliki ukuran raksasa seperti Jupiter dan juga merupakan planet gas yang kemudian diberi nama TrES-2b.
Dunia yang Gelap..
TrES-2b planet gelap dari konstelasi Draco. kredit : CfA
Exoplanet TrES-2b memantulkan kurang dari 1 % cahaya bintang yang mencapai dirinya, sehingga ia menjadi jauh lebih gelap dari batubara atau dari planet manapun yang ada termasuk Bulan di Tata Surya.
TrES-2b diyakini sangat tidak reflektif atau kemampuannya memantulkan cahaya jauh lebih rendah dibanding cat akrilik hitam. Akibatnya exoplanet ini benar-benar menjadi sebuah dunia asing yang baru dilihat dan diketahui para astronom. Tak heran karena alam semesta memang masih menyimpan sedemikian banyak misteri.
Misteri dari planet gelap
Di Tata Surya, Jupiter terbungkus awan amonia terang yang memantulkan lebih dari 1/3 cahaya Matahari yang mencapai dirinya. Berbeda dengan TrES-2b yang ditemukan tahun 2006 oleh Trans-Atlantic Exoplanet Survey (TrES) yang kemampuannya untuk memantulkan cahaya sangat rendah karena kurangnya awan yang dapat memantulkan cahaya sebagai akibat temperaturnya yang tinggi.
TrES-2b mengorbit bintang induknya pada jarak 190 milyar km. Cahaya yang intens dari si bintang induk, memanaskan planet tersebut sampai pada suhu hampir 1000º C.  Suhu ini terlalu panas bagi awan amonia. Dan atmosfernya justru terdiri dari senyawa kimia yang menyerap cahaya seperti uap sodium dan potasium atau juga gas titanium oksida. Namun demikian tak satupun dari senyawa kimia yang ada bisa menjelaskan dengan baik apa yang menyebabkan terjadinya kegelapan ekstrim di TrES-2b.
Meskipun masih belum jelas apa yang menyebabkan exoplanet TrES-2b demikian gelap, ia tidaklah benar-benar gelap. Ia hanya sangat panas sehingga ia memancarkan pedaran cahaya merah yang lemah, seperti halnya bara yang terbakar atau kumparan pada kompor listrik.
Mencari Jawaban..
David Kipping dari  Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CfA) dan David Spiegel dari  Princeton University melakukan pengukuran tingkat pantulan pada TrES-2b menggunakan data dari wahana Kepler yang memang didesain untuk mengukur kecerlangan bintang jauh denga tingkat presisi yang sangat baik. Tim ini memantau kecerlangan sistem TrES-2 saat planet tersebut mengorbit bintangnya. Hasilnya mereka bisa mendeteksi ketika cahaya si bintang meredup dan cerlang kembali ketika terjadi perubahan fase planet. Meskipun kedipan yang mereka lihat itu sangat lemah
TrES-2b diduga terkunci secara gravitasi seperti halnya bulan sehingga hanya satu sisi wajah planet yang akan menghadap sang bintang induk. Dan seperti halnya Bulan,  planet tersebut akan menunjukkan perubahan fasenya ketika mengorbit sang bintang induk. Akibatnya, kecerlangan total dari bintang plus planet akan bervariasi meskipun sangat kecil yakni hanya 6 per 1 juta. Artinya fluktuasi yang teradi sangat lemah dan membuktikan kalau TrES-2b sangat gelap. Jika si planet memiliki kemampuan memantulkan yang lebih besar maka variasi kecerlangan juga akan lebih besar saat terjadi pergantian fase.
TrES-2b yang mengorbit bintang GSC 03549-02811 dan menjadi dunia baru penuh misteri tersebut berada sekitar 750 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Draco.

Melihat Goyangan Untuk Menemukan Planet Baru

Tata Surya terdiri dari bermacam-macam planet: ada planet batuan dan kecil seperti Bumi dan Mars di bagian dalam, ada juga planet Gas Raksasa sepert Jupiter dan Saturnus yang berada lebih jauh. Para astronom juga mencari tahu apakah ada Tata Surya lain di alam semesta yang mirip milik kita. beberapa hari lalu, para astronom itu mengumumkan penemuan 50 planet disekeliling bintang jauh dan penemuan ini juga membantu memberi jawaban atas pertanyaan para astronom.
Ilustrasi Planet Super Bumi. Kredit : ESO/M. Kornmesser
Ke-50 obyek yang disebut “exo-planet” itu ditemukan menggunakan teleskop di Amerika Selatan. Karena exoplanet berada sangat jauh, mereka terlalu kecil dan gelap untuk bisa dipotret. Karena itu, teleskop yang ingin mencari keberadaan exoplanet menggunakan trik tertentu, yaitu melihat jika bintangnya bergoyang. Kok bisa?
Kalau sebuah bintang punya planet, ia akan merasakan sedikit gangguan dari gaya tarik si planet, yang membuat bintang sedikit bergoyang. Nah, dengan melihat goyangan bintang, astronom dapat mengetahui ada berapa exoplanet yang mengorbit bintang itu dan berapa massanya.
Setelah semua planet yang ditemukan itu dipelajari, astronom menemukan kalau setengah dari bintang yang mirip Matahari punya setidaknya 1 planet yang lebih ringan dari Saturnus. Dan dari ke-50 exoplanet yang baru ditemukan itu, 16 di antaranya disebut sebagai super-Bumi, yang artinya massanya antara satu sampai sepuluh kali Bumi.
Salah satu planet super- Bumi yang ditemukan itu paling menarik perhatian karena ia berada di jarak yang tepat dari bintang untuk punya air dalam wujud cair. Kalau terlalu jauh air akan membeku dan kalau terlalu dekat airnya akan mendidih dan menguap. Sepertinya sih, planet ini mungkin saja punya makhluk asing!
Fakta menarik : Dengan tambahan 50 planet baru, saat ini sudah lebih dari 650 exoplanet yang ditemukan! Tapi masih ada lebih banyak lagi yang menanti untuk ditemukan.
Sumber : Space Scoop Universe Awareness

Planet Terbesar Yang Bergerak Terbalik

Sebuah planet yang besarnya dua kali Jupiter ditemukan. Yang unik, planet ini tak sama dengan planet lainnya, ia bergerak dalam arah yang salah!.
Ilustrasi exoplanet yang sedang transit. Kredit: NASA/Hubble
Ilustrasi exoplanet yang sedang transit. Kredit: NASA/Hubble
Planet yang dinamai WASP-17 ditemukan para pemburu planet Inggris mengorbit sebuah bintang yang jaraknya 1000 tahun cahaya. Sama seperti planet lainnya, WASP-17 juga terbentuk dari awan gas yang sama yang membentuk bintang, karena itu diharapkan ia akan bergerak pada arah yang sama dengan putaran bintang. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
David Anderson dari Keele University dan Amaury Triaud dari Observatorium Geneva menemukan kalau si WASP-17 ini bergerak pada arah sebaliknya. Dan ini berarti WASP-17 merupakan planet pertama yang bergerak dalam orbit “retrograde”. Bagaimana mungkin? Tampaknya WASP-17 terlibat dalam tabrakan di area tersebut dengan sebuah planet di awal sejarah hidupnya.
Di masa awal sejarah hidupnya WASP-17 merupakan korban permainan bilyar planet yang kemudian terhempas masuk dalam orbit yang tidak biasa akibat pertemuannya dengan planet “saudara tuanya”. Kalau kata Shakespeare, “dua planet tak bisa mendiami orbit yang sama, seperti halnya tak mungkin ada dua raja di Inggris”. Dan WASP-17 memang membuktikan kalau kata-kata itu benar adanya.
Kisah-kisah awal mula pembentukan planet memang penuh dengan berbagai kejadian yang penuh kekerasan. Tabrakan dimana-mana, bahkan Bulan pun diyakini terbentuk saat planet sebesar Mars bertabrakan dengan Bumi yang baru saja terbentuk. Tabrakan yang diyakini melontarkan sejumlah awan reruntuhan ke angkasa dan reruntuhan inilah yang kemudian bersatu membentuk Bulan. Jadi tak heran kalau Sistem Keplanetan yang baru terbentuk merupakan tempat yang keras dan penuh kekejaman.
Kondisi awal yang penuh kekejaman inilah yang diperkirakan menyebabkan adanya umban gravitasi yang melontarkannya ke orbit sebaliknya ini.
Dalam pengamatan WASP-17, yang pertama kali menarik perhatian adalah ukurannya yang sangat besar. Dan meskipun massanya hanya 1,5 kali massa Jupiter, ukurannya justru mencapai 2 kali ukuran Jupiter sehingga WASP-17 jadi planet terbesar saat ini.
Sudah sejak lama para astronom bertanya-tanya mengapa sebagian exoplanet lebih besar dari yang diharapkan. Dan kehadiran WASP-17 diharapkan akan memberikan penjelasan. Berada pada orbit retrograde dan elips, WASP-17 memiliki pasang surut yang kuat. Pemampatan dan tarikan akibat pasag surut akan memanaskan planet gas raksasa ini ke kondisinya yang sekarang, menjadi benda raksasa yang menggembung.
Kerapatan planet ini hanya seperti ploystyrene yang mengembang (sejenis bahan termoplastik), atau sekitar 70 kali lebih kecil kerapatannya dari Bumi.
Penemuan WASP-17 memang tidak sekedar sebuah kesuksesan menemukan planet terbesar tapi ringan dengan orbit retrograde, namun ia bisa membawa kita pada pemahaman lebih lanjut akan pembentukan dan evolusi Tata Surya.
 
© Copyright 2010-2011 Media Pengetahuan All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.