Payudara Narti Pecah Akibat Kanker yang Diderita

Rabu, 02 Mei 2012

Share This Article On :

http://images.detik.com/content/2012/04/30/466/tumor-payudara.jpg


Sudah jatuh, tertimpa tangga. Mungkin peribahasa ini bisa menggambarkan kondisi Narti (47). Pernikahannya selama 7 tahun tidak berbuah anak, kini perempuan asal Nganjuk ini harus tersiksa karena kanker payudara yang kian parah.

Entah sejak kapan Narti yang tinggal bersama suaminya Kamidi (72) di gang kecil kawasan Tambak Asri gang Dahlia I mulai merasakan benjolan di bawah ketiak. Narti ketika itu mengira benjolan tersebut hanya bisul. Hingga sekarang, benjolan itu membesar dan pecah membuat luka yang cukup dalam.

Narti yang bekerja di pabrik garam di kawasan Genting, Dupak tidak menyadari bahwa benjolan di bawah ketiak itu sel kanker. Ia hanya berusaha menghilangkan rasa nyeri dengan menempelkan koyo ke bawah ketiak.

Lama kelamaan, koyo panas yang menempel itu semakin sering menutupi benjolan sebesar kacang. Parahnya, saat koyo dilepas, kulit dan isi benjolan ikut terkelupas hingga menyisakan luka dan lubang besar.

Saat peristiwa itu terjadi, Narti masih tidak menyadari bahwa luka benjolan itu tidak sembarangan. Narti bahkan terus beraktivitas kerja. Hanya saja, Narti menutup luka benjolan itu dengan kapas kemudian dilekatkan dengan solasi.

"Nah kapasnya itu terlalu menempel di lukanya. Bu Narti sering kesakitan saat mengganti kapas. Jadi ya nggak pernah diganti kapasnya," kata salah satu tetangga Narti, Ny Sulia saat ikut merawat di rumah kontrakan 2x3 meter persegi di Tambak Asri gang Dahlia I RT 27 RW VI, Senin (30/4/2012).

Saat suaminya mencoba untuk mengganti kapas, lanjutnya, ternyata seluruh isi kapas sudah dipenuhi belatung. Kamidi shock tapi tidak tahu harus berbuat apa.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak itu akhirnya mengikuti saran para tetangga. Mulai dari menabur bubuk tembakau dan bubuk kopi untuk menghilangkan bau busuk dan belatung yang memenuhi lubang luka di payudara hingga bawah ketiak Narti.

Narti dan suaminya bukan tidak pernah periksa ke dokter. Sekitar bulan Oktober 2011 lalu keduanya sempat mencoba cek kesehatan dan benjolan ke RS Soewandi, namun ditolak.

Tak lama kemudian, keduanya pindah periksa ke RSU dr Soetomo. Saat itu, kondisi payudara Narti yang sudah berlubang dan bernanah dibersihkan. Narti juga diberi obat bubuk untuk antibiotik menghilangkan belatung.

"Tapi kondisi Bu Narti malah semakin lemas. Tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan. Jadi tidak bisa kontrol ke rumah sakit," lanjut Sulia.

Bahkan, 2 minggu terakhir ini, Narti semakin lumpuh. Selain tangan dan kaki yang tidak bisa digerakkan, Narti juga tidak bisa lagi mengunyah. Alhasil, Narti tidak bisa mengonsumsi nasi, hanya susu dan air mineral yang sedikit demi sedikit

Menurut pantauan detiksurabaya.com, kondisi kaki dan tangan Narti telah lemas tidak berdaya. Bahkan, tubuh dari kaki hingga pinggang terlihat mengecil tinggal tulang yang dibungkus kulit.

Narti tergulai lemas di lantai ubin plester. Rumah kontrakan seluas 2x3 meter persegi itupun terlihat tidak layak huni. Apalagi untuk Narti yang sedang dalam kondisi sakit parah.

Kini Narti hanya berharap penyakitnya sembuh. Ia tidak ingin berlama-lama menyusahkan orang-orang di sekelilingnya, terutama suami dengan kondisi Narti yang lumpuh. Bila harus operasi dan dirawat di rumah sakit, Narti pun tidak tahu dengan biaya dari mana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
© Copyright 2010-2011 Media Pengetahuan All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.